UPT. PROG. BHS INDONESIA PENUTUR ASING
Universitas Muhammadiyah Malang
UPT. PROG. BHS INDONESIA PENUTUR ASING
Universitas Muhammadiyah Malang

Teknologi yang Dapat Melindungi Hewan yang Dilindungi

Author : Administrator | Rabu, 08 Juli 2015 09:10 WIB
 

Jaringan penyelundupan hewan liar semakin canggih, begitu juga metode yang haru digunakan untuk menemukan dan menghentikan mereka.


Teknologi yang Dapat Melindungi Hewan yang Dilindungi
Ranger yang sedang berpatroli melawan pemburu liar badak di Konservasi Lewa Wildlife, Kenya, 2010. Ranger menggunakan two-way radio untuk berkomunikasi dengan petugas lainnya. Mereka diperkenalkan dengan jaringan radio digital yang lebih efisien (Roberto Schmidt/Getty Images)

nationalgeographic-

11 Cara Teknologi dapat Menghentikan Tindakan Kriminal Terhadap Hewan Yang Terancam Punah

Penyelundupan satwa liar merupakan sebuah epidemi global. Hasil perdagangan bernilai miliaran dolar per tahunnya, membuat hewan-hewan seperti badak, gajah, trenggiling, tiram, dan hiu menuju kepunahan akibat dari perdagangan gelap.

Jaringan kriminal kini semakin canggih dari sebelumnya. Pendekatan baru berteknologi tinggi sedang dikembangkan untuk mengidentifikasi para pelaku dan membawa mereka ke pengadilan.

National Geographic bekerja sama dengan U.S. Agency for International Development, Smithsonian, dan TRAFFIC—pemantau jaringan perdagangan satwa liar—untuk mendukung “Wildlife Crime Tech Challenge.” Sebuah kompetisi di mana peserta yang memunyai teknik inovatif untuk memerangi perdagangan hewan akan mendapatkan hadiah hingga senilai $ 500,000.

Sementara itu, inilah 11 cara yang paling menjanjikan dengan teknologi baru untuk mendeteksi kejahatan satwa liar, menangkap basah pemburu liar, dan membawanya ke penegak hukum:

1. Analisis DNA

Analisis DNA telah membuktikan dan mengubah permainan di penyelidikan kejahatan satwa liar. Dipelopori oleh Samuel Wasser,  Universitas Washington, Seattle, analisis DNA dari gading, dibandingkan dengan pemetaan DNA berbasis populasi gajah, memungkinkan para peneliti mencari asal usul gading tersebut, dan memusatkan perhatian pada daerah yang berisiko tinggi. 

Mem-barcode DNA, pertama kali dikembangkan oleh para peneliti Universitas Guelph, Otario, Kanada, memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi sepesies dari fragmen dan bahan genetik yang sangat kecil.

2. Perangkap Akustik

Menggunakan jaringan dari daur ulang telepon genggam, dilengkapi dengan panel surya dan antena yang bertindak sebagai sensor, Rainforest Connection melacak pemabalakan liar di Kalimantan. 

Ponsel, disimpan di wadah anti air, dipasang di seluruh hutan. Merekam, mengirimkan suara yang terkait dengan aktivitas yang tidak sah, seperti pesawat, mesin truk, gergaji mesin, ledakan, dan senjata api. Data-data tersebut dikirmkan ke server yang berbasis cloud untuk dianalisis. Alat ini memungkinan untuk menangkap penebang liar.

3. Kamera Termal

Untuk menghadapi tantangan bagi patroli yang memiliki area yang luas, keras, dan pemandangan yang terbatas, para peneliti dan Wildlife Crime Techonology Project, menguji citra kamera termal untuk memantau  jalur masuk ilegal dan kawasan yang dilindungi.

Ditempatkan di perimeter area konservasi, sepanjang jalan, dan jalan setaak, kamera secara otomatis akan mengirimkan peringatan kepada polisi hutan saat mendeteksi adanya pemburu liar yang masuk ke wilaya yang dilindungi. Peranti lunak kamera dapat membedakan gerakan alam, seperti cabang yang bergoyang dan manusia yang bergerak.

4. Analisis yang Canggih dan Pemetaan

Proyek The Global Database of Events, Language, dan Tone (GDELT), didanai oleh Google Ideas, melacak media siar, medi cetak, dan jaringan media di seluruh dunia untuk tiga bulan agar dapat memetakan kejahatan satwa liar.  Hasilnya adalah peta interaktif yang memungkinkan pengguna untuk mengeksplorasi media dalam perburuan badak di Afrika Selatan, perburuan elk di Kanada, penyelundupan satwa liar di Kroasia, dan penangkapan ikan yang berlebihan di Brazil. 

Dengan cara yang sama, basis data The HealthMap Wildlife, yang dikembangkan oleh Nikkita Patel di Univeristy of Pennsylvania, menggunakan akun media untuk melacak kecenderungan dari kejahatan satwa liar untuk mengidentifikasi geografis yang penting sepanjang rantai perdagangan hewan liar ilegal untuk membantu penegakan hukum yang melarang peneyelundupan.

C4ADS, perusahaan non-profit yang fokus pada konflik dan keamanan seluruh dunia, memproduksi peta interaktif yang terus-menerus diperbarui yang melacak gading dengan skala besar, amunisi yang digunakan dalam perburuan ilegal, serta laporan tertulis dan informasi lainnya mengenai gading, macan, dan pasokan kayu rantai. 

Peta beserta data analisis C4ADS, tersedia secara gratis untuk penegak hukum dan pengiriman profesional, yang dapat membantu organisasi konservasi yang kekurangan SDA untuk melawan sindikat perdagangan transnasional.

5. Pemantauan Tata Ruang, Alat Melaporkan (SMART) , dan CyberTracker

Peranti lunak yang gratis ini telah digunakan di 120 area konservasi di 27 negara. Mengintegrasikan data dari patroli kehutanan, menganalisis daerah perburuan ilegal, dan ukuran kemajuan dalam penegakan hukum untuk membantu peningkatan efektivitas mereka dalam memerangi kejahatan satwa liar.

Melalui kemitraan dengan CyberTracker, yang sudah mengembangkan suatu alat genggam untuk menangkap pengetahuan pelacak asli. Sistem yang menggabungkan pengetahuan lokal dari perilaku dan gerakan hewan untuk lebih memahami ekologi lokal.

6. Radio Digital

Bahkan tekonologi sederhana yang ditingkatka, dapat membuat perubahan besar. Di Kenya, polisi kehutanan mengganti jaringan radio dua arah, yang rentan terhadap gangguan dan kurang fitur kemanan. Mereka menggantikannya dengan jaringan radio digital yang memungkinkan ranger aman untuk berkomunikasi jarak jauh. Berkoordinasi dengan markas, dan merespon cepat terhadap insiden perburuan dan parkir liar. 

7. GPS-Baik yang Ada di Kamera ataupun Smartphones

Di India, sebuah aplikasi bernama Hejje resmi diluncurkan. Hejje memungkinkan rangers untuk menggunakan smartphones untuk melacak pergerakan harimau, serta catatan melalui pengiriman foto isntan dan juga fitur lanskap, seperti mengukur permukaan air, kebakaran hutan, dan kegiatan manusia yang mencurigakan. Sehingga nantinya pihak taman dapat membuat keputusan apa yang harus dilakukan saat itu juga. 

Konservator dari Amerika Serikat, Kanada, dan Kenya mengembangkan alat yang sama untuk gajah Afrika, yang di mana menggunakan GPS dan ponsel pintar untuk melacak. Nantinya data mengenai lokasi hewan dan pergerakannya akan ditransmisikan via satelit atau jaringan ponsel lokal. Peneliti akan diberitahu bila ada sesuatu yang terjadi, seperti ketika seekor gajah berhenti bergerak untuk jangka waktu yang lama. 

Datanya juga dapat digunakan untuk membantu pihak berwenang melakukan intervesi sebelum gajah merusak ladang petani atau untuk menemukan dengan cepat gajah yang membutuhkan perawatan hewan.8. Virtual Watch Room

Pemancingan yang Ilegal, tidak terlaporkan, dan  tidak bergulasi,  berpenghasilan antara 10 hingga 23 juta dolar per tahunnya. Menurut Global Ocean Commission, hal tersebut mengancam seluruh ekosistem serta ketahanan pangan dari jutaan orang. 

Agar dapat memonitor lingkungan laut dengan biak, Pew Charitable Trusts bekerjasama dengan Satellite Applications Catapult untuk mengembangkan Virtual Watch Room. Menggunakan gamabar dan pelacak satelit yang bersifat real-time, sistem tersebut dapat mengidentifikasi gerakan yang mencurigakan, sehingga pihak berwenang dapat mengambil aksi untuk menghentikan pemancingan ilegal.

 9. WILDSCAN dan Aplikasi Ponsel Lainnya

Diluncurkan di Vietnam, WILDSCAN adalah aplikasi publik yang dikembangkan untuk membantu petugas hukum mengidentifikasi, menangani, dan melaporkan penyelundupan hewan liar. 

Aplikasi tersebut menyediakan informasi mengenai hewan-hewan yang sering diperdagangkan di Asia. Tersedia pula informasi mengenai perawatan hewan liar dan tanaman, seperti makanan yang dimakan atau bagaimana cara untuk meberi air, agar para bihak berwajib dapat menangani hewan liar dengan aman. 

Aplikasi yang sama beroperasi di China (Wildlife Guardian) dan Afghanistan (Wildlife Alert) . Kedua aplikasi ini tidak memerlukan koneksi internet untuk mengoperasikannya. 

10. Wildleaks

Diawali dengan Elephant Action League, situs ini, diterjemahkan ke 16 bahasa. Membolehkan pengguna anonim untuk melaorkan kejahatan hewan liar di seluruh dunia. Situs ini menyediakan penegakan hukum dan wartawan dengan nilai informasi kejahatan yang berharga yang berkaitan dengan gading, cula badak, primata, trenggiling, burung, kucing besar, dan kayu. 

 11. Crowdfunding

Mendapatkan dana untuk melawan kejahatan satwa liar selalu menjadi masalah, terutama di negara-negara yang ekonominya kurang. Pasukan ranger dan konservator menggunakan metode crowdfunding (pendanaan ramai-ramai) untuk membayar alat-alat yang digunakan melawan pemburu liar, seperti drone untuk mengetahui tempat pemburu liar, anjing pelacak untuk mengetahui lokasi gading, tempat pemburu liar latihan, senjata, dan seragam.

Satu organisasi di Kenya, David Sheldrick Wildlife Trust (DSWT), membantu gajah yang “yatim piatu” lewat crowdfunding. Selain menyelamatkan dan merehabilitasi bayi-bayi gajah, DSWT menyediakan perawatan mobile bagi gajah liar yang terluka akibat dari pemburu liar. 

(Patricia Raxter/nationalgeographic.com)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image